Koman ou sava?

22 05 2008

Apa kabar?

Buat beberapa orang hanyalah merupakan sebuah kebiasaaan atau banyak juga yang mengartikan sebagai bagian dari basa basi. Tapi aku tak pernah menganggapnya begitu.

Aku rasa bertanya apa kabar adalah salah satu bentuk perhatian. I do. Karena biasanya ‘apa kabar’ diucapkan oleh orang yang sudah lama mengenal kita bukan kenalan baru.

Bayangkan seperti ini, kau berjumpa dengan kawan lama. Hal pertama yang akan kau katakan adalah ‘apa kabar? long time no see?’ Apakah apa kabar yang kau tanyakan itu hanyalah basa basi belaka? Tentu tidak, sebab kau benar benar ingin tahu bagaimana keadaaan temanmu itu.

Seperti itulah aku melihatnya, pertanyaan apa kabar. Aku selalu menjawab dengan antusias. Aku senang dengan perhatian yang diberikan melalui pertanyaan tersebut, itu berarti seseorang masih mengingat dan menginginkan aku berada dalam keadaan yang baik.

Ya, buatku ‘apa kabar’ tidak pernah menjadi sekedar basa basi. Bagaimana dengan kamu?

Maka suatu saat jika kau bertemu denganku dan bertanya,

Koman ou sava?

Yakinlah aku akan menjawabnya dengan senang hati,

Byen mersi.





Bon jou, nenek

22 05 2008

Aku suka ketika nenek mengucapkan ‘Selamat Pagi’. Selalu ceria. Senyum tak pernah lepas dari bibir mungilnya.

Perempuan berusia 60 tahun yang masih kuat menghidangkan segelas susu dan pancake di pagi hari, meski terkadang aku memilih untuk menghabiskan sereal dan mengabaikan pancake lezat buatannya itu.

Transformasi semangat, itu yang aku rasakan. Angin laut yang dingin di pagi hari tak lagi membuatku menggigil.

‘Pagi tak seharusnya disambut dengan muram, my dear’.

Bergegas kulipat selimut, mematikan alarm digital clock. Setumpuk tugas sudah menunggu dan ada beberapa temu janji yang harus dilakukan.

Aku rasa tak perlulah mengeluh tentang udara pagi yang tak bersahabat. Malu pada nenek.

Sebentar lagi matahari akan menghangatkan kulit. Benar kata nenek, pagi tak seharusnya disambut dengan muram.

Bon jou, nenek!