Mama, kau terbuat dari apa?
Ketika aku bercerita tentang perbuatan jahat seorang rekanan, engkau malah menyuruhku untuk mengampuni , tetap mengasihinya sebagai seorang teman dan tak sedikitpun boleh mengurangi perbuatan baikku kepadanya.
Mama, kau terbuat dari apa?
Ketika aku bercerita tentang perbuatan jahat seorang rekanan, engkau malah menyuruhku untuk mengampuni , tetap mengasihinya sebagai seorang teman dan tak sedikitpun boleh mengurangi perbuatan baikku kepadanya.
Aku suka ketika nenek mengucapkan ‘Selamat Pagi’. Selalu ceria. Senyum tak pernah lepas dari bibir mungilnya.
Perempuan berusia 60 tahun yang masih kuat menghidangkan segelas susu dan pancake di pagi hari, meski terkadang aku memilih untuk menghabiskan sereal dan mengabaikan pancake lezat buatannya itu.
Transformasi semangat, itu yang aku rasakan. Angin laut yang dingin di pagi hari tak lagi membuatku menggigil.
‘Pagi tak seharusnya disambut dengan muram, my dear’.
Bergegas kulipat selimut, mematikan alarm digital clock. Setumpuk tugas sudah menunggu dan ada beberapa temu janji yang harus dilakukan.
Aku rasa tak perlulah mengeluh tentang udara pagi yang tak bersahabat. Malu pada nenek.
Sebentar lagi matahari akan menghangatkan kulit. Benar kata nenek, pagi tak seharusnya disambut dengan muram.
Bon jou, nenek!
Sapaan Sekotak Sereal